Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Mei 2021

Melankolisme Gadung-Gadungan Malam - KATAKITA.INFO

Melankolisme Gadung-Gadungan Malam

Melankolisme Gadung-Gadungan Malam-malam seperti ini, di tengah mata kriyip-kriyip mantengin buku bacaan, antara mau masuk tidur dan tidak, memori lidah saya tiba-tiba teringat gurihnya kripik gadung goreng buatan simbah (yang selanjutnya akan saya panggil nenek) dulu. . . " Sajak Kana "

Namun, mengingat masyarakat kampung mulai beralih dari tungku pawon ke gas melon elpiji yang tentu saja akhirnya tidak menghasilkan abu sebagai salah satu bahan peluntur racun dari umbi itu, rasa-rasanya mustahil saya dapat kembali memakannya. . .

Dalam bayangan saya yang kadang tebal, kadang menipis di dalam sayunya mata karena naiknya kadar gula sehabis makan bubur ayam ini pikiran itu akhirnya menjadi berkeliaran dan mencoba bertanya. . .

Apakah kripik gurih dengan aroma bawang ini lambat laun akan ikut tersisihkan seperti makanan-makanan zaman ketika saya masih kecil, atau ketika masih di kampung? Semisal; sego jagung, gandhos goreng, suweg, onde-onde ceplis, munggur kreweng alias godril yang merupakan bijian dari pohon trembesi atau samanea saman? . .

Tentu saja hilangnya makanan tersebut berbeda sebab dengan kekhawatiran saya akan kripik gadung - selain sulitnya pengolahan- mungkin juga karena banyaknya jenis makanan dengan citarasa 'msg' di pasaran yang kian beragam lewat semboyan mereka; taste is blend. . .

Sambil mengail-ngail ingatan dari proses pembuatan kripik gadung (seingat saya dulu pernah ikut membantu proses dari pengupasan sampai penjemuran) yang kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu sebelum akhirnya sampai masuk di toples untuk dijadikan jamuan lebaran tersebut. . .

Pembuatan kripik ini memang harus hati-hati, karena bila gagal banyak yang mengakibatkan keracunan bagi si pemakan umbi kripik, dan tentu saja nenek saya cukup terkenal di kampungnya dengan kripik buatannya yang gempi, alias empuk, putih bersih seperti bengkuang, dan tentu saja gurih. Lain dari itu, juga belum pernah saya dengar orang keracunan setelah memakan keripik darinya. (Saya lanjutkan di Kolom Komentar) "DUNIAKANA"

Tiga Helaan Napas Sebelum Tidur - KATAKITA.INFO

Tiga Helaan Napas Sebelum Tidur Menyimak guguran helai rambutmu pada gerigi sisir adalah memasuki rahasia terpendam gerak tangan dalam ritual purba dan suci. Sebuah upaya melubangi langit hingga jemari gerimis berpamitan pada angin untuk kemudian merengkuh laut-laut basah.

Tiga Helaan Napas Sebelum Tidur Menyimak guguran helai rambutmu pada gerigi sisir adalah memasuki rahasia terpendam gerak tangan dalam ritual purba dan suci. Sebuah upaya melubangi langit hingga jemari gerimis berpamitan pada angin untuk kemudian merengkuh laut-laut basah. "Sajak Kita"

Sebagaimana ingatan terlepas atau kembali terngiang dari lagu yang meneriakkan nama-nama, telingaku tidak dapat menolak tawamu seperti getaran halus senar biola merambati dawai.

Lalu datang perayaan untuk melihat lebih dekat pasar-pasar di musim semi, menanggalkan huruf yang ingin rebah di lembaran buku, atau membeli kembang gula untuk dimakan sambil menonton sirkus. Di baris-baris kursi yang berjajar engkau akan bertanya kenapa gajah dapat berhitung?

Baca juga: Meronta-ronta Kesedihan Anila

Bagaimana beruang dapat menikmati lagu sambil berdansa sendirian? Atau burung Kakaktua yang dapat melantunkan isi hatimu yang bisu. Tak ada angin pergi, hinggap dan sejenak menggoyangkan likat satin tubuhmu, atau napasmu yang kau sembunyikan di dalam botol-botol kaca.

Rambut di gerigi sisir menjadi hal-hal yang kau ikhlaskan dari beberapa kemungkinan, atau tidak kau anggap sebagai apapun. Putih cermin masa kanak-kanak, letupan bunga api di udara beku, atau aku diam-diam menatap matamu di alam mimpi, dan pangkal merah bibirmu menjadi pagi yang lembut bagi kematianku, "DUNIAKANA"

Meronta-ronta Kesedihan Anila - KATAKITA.INFO

Meronta-ronta Kesedihan Anila

Adakah yang dapat kita lakukan dalam kesedihan Anila, potongan-potongan mimpi memburai bersama udara malam, di biru matamu yang di sana pelaut-pelaut membiasakan diri tenggelam. 
Musim gugur dan badai bintang terbakar di langit keruh, lalu udara berubah jadi abu tatkala kesementaraan tiang-tiang layar memainkan angin menderu? Di jelang pagi, tak ada yang mencari bunga atau bau gelap gerai rambut, "Sajak Kita"
sebab sedih bukan laut atau sungai-sungai yang lupa jalan pulang. Karena langit tumpah lalu kenangan menggenang menjadi sebuah perpustakaan, atau ciuman-ciuman tergesa di udara beku, kerlingan mata atas punggung yang menggangu bahasa.
Hingga cinta bukan nyalanya api, atau sisa-sisa abu yang sepi. Sebab peradaban membangun pagar-pagar, dan jalanan berbatu membuat jinak dedaunan. keinginan adalah keniscayaan yang bisu bayang-bayang.
Waktu Anila, ialah burung-burung gagak yang tidak lagi menyuarakan kabar buruk, karena pohonan telah tumbuh di kepala. Dan mata air, adalah gemericik semesta darah di pergelangan tangan. Biru kehijauan warna denyut yang berburu malam-malam merah.
Atau kunang-kunang di dalam toples kaca yang enggan bernapas, karena kuku-kuku peri membebaskan diri dari kutukan. Awan-awan hitam mendambakan ketidakinginan semu, dan rumput-rumput liar menyala di atas bukit.
Menjadi mercusuar penunjuk arah kapal-kapal yang hendak berlabuh, dari pelaut yang bercakap-cakap dengan ikan hingga mengobati lapar dengan menelan kabut. DUNIAKANA

Secara resmi, Dlar meningkatkan EVOS Legends di MPL Musim 10

Katakita-info.blogspot.com - Status Dlara akhirnya resmi menjadi anggota tim EVOS Legends. Kabar membingungkan dari pemain ini masih menjad...